Merefleksikan Kisah Cinta di Masyarakat

Peringati Hari Musik Nasional mungkin sudah lewat. Namun, musik nampaknya tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Ada yang masih ingat dengan lagu berjudul “Bang Toyib”? Lagu tersebut dipopulerkan oleh Ade Irma di tahun 2000-an




Dalam lagu tersebut. Bang Toyib adalah seorang lelaki yang merantau ke tempat orang lain. Akan tetapi, Bang Toyib lupa untuk pulang ke rumah. Bahkan dalam lagu tersebut disebutkan, tiga kali puasa tiga kali lebaran Bang Toyib tidak pulang-pulang. Mengacuhkan anaknya yang tiap hari memanggil nama Bang Toyib. 

Ternyata lagu tersebut mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Hingga di tahun 2015, ada banyak versi dari lagu “Bang Toyib”.

Di tahun 2011, lagu “Bang Toyib” mendapatkan bantahan dari Band Wali. Wali Band, mengeluarkan lagu dengan judul “Aku Bukan Bang Toyib,”. Lagu ini disebut sebagai bantahan dari lagu “Bang Toyib”. 
Lagu tersebut dikisahkan  seorang laki-laki yang sedang merantau, tetapi istrinya sangat takut bahwa si suami selingkuh. Padahal ketika merantau, si suami memang benar sedang bekerja untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Si suami, selalu pulang membawakan kebutuhan keluarganya. 

Lagu “Aku Bukan Bang Toyib” ternyata lagu keras di pasaran. Bahkan karena lagu ini, Grup Band Wali mendapatkan berbagai penghargaan di ranah Indonesia. Dari lagu tersebut, beberapa orang berhasil menyakini bahwa seorang suami tidak semuanya terjadi seperti Bang Toyib. 

Di tahun 2014 setelah semuanya percaya bahwa tidak semua lelaki dikisahkan seperti Bang Toyib, melalui lagu dengan judul “Bang Jono” masyarakat kembali mempercayai bahwa kisah Bang Toyib. 
Lagu “Bang Jono” ini dipopulerkan oleh Zaskia Ghotik. Penyanyi dangdut berasal Bandung dengan usia yang masih muda dan cantik.   

Bahkan dalam reff, lagu tersebut menyindir lagu “Aku Bukan Bang Toyib”. Beberapa kalimat diambil dari lagu tersebut. Ternyata lagu-lagu tersebut berasal dari kisah nyata yang terjadi di masyarakat. Tidak hanya Bang Toyib dan Bang Jono contoh dari ketidakwarasan laki-laki. Keadaan ini sudah dikisahkan sejak lama pada cerita pewayangan. 

Pada cerita pewayangan di Alam Mayapada yaitu pada perkawinan Sanghyang Manikmaya. Sanghyang Manikmaya mempunyai dua orang istri yaitu Dewi Umayi dan Dewi Umarakti.  Pernikahan Sanghyang Manikmaya dengan Dewi Umarakti ternyata pernikahan yang tidak disengaja. Hal ini karena Dewi Umayi berubah menjadi raksesi. Sehingga, Ayah dari Dewi Umayi harus mencari perempuan yang mirip dengan Umayi. Dewi Umarakti ternyata mirip dengan Dewi Umayi. 

Dewi Umarakti, diperlakukan sama seperti Dewi Umayi.  Akhirnya, Dewi Umarakti menikah dengan Sanghyang Manikmaya.  Selanjutnya pada kisah Mahabharata yaitu anak dari Arjuna, Abimanyu. Abimanyu memilik dua orang istri. Sebelum menikah dengan Dewi Utari, Abimayu menikah dengan Dewi Siti Sendari. Akan tetapi, Dewi Utari tidak mengetahui kejadian ini. Hingga akhirnya, Dewi Utari mencurigai suaminya. Lalu, Abimanyu berjanji jika dirinya sudah menikah dirinya akan dengan rela meninggal di medan perang.

Di hari ke 13, ucapan Abimanyu terbukti. Abimanyu mati saat melawan Kurawa. Pernikahan pertama Abimanyu, ternyata mendapatkan diketahun dewata mendapat petaka. Abimanyu tidak akan mendapatkan keturunan. Sehingga, Abimanyu menikah dengan Dewi Utari. 

Berbeda dengan Abimanyu, pada kisah Arjuna. Arjuna memiliki 15 istri. Dicatat bahwa diantara para Pandawa, hanya Arjuna yang memiliki paling banyak istri. Arjuna memiliki banyak istri, bukan berarti Arjuna mengejar wanita. Tetapi, wanitalah yang mengejar Arjuna. Bahkan dengan sekarela menjadi pendamping Arjuna. 

Dalam cerita Mahabharata, Arjuna adalah seorang pemuda yang sangat tampan. Ditambah tingkat sosial Arjuna itu sangat tinggi. Dia berani melawan beberapa raksasa demi terciptanya kehidupan yang makmur. 

Dalam bukunya Soedjiwo Tedjo yang berjudul “Dalang Galau Nge-Twit” memberitahukan bahwa lelaki yang mempunyai tingkat sosial yang tinggi, akan selalu dikelilingi oleh wanita. Bahkan wanita akan mengejarnya. Jika beberapa lelaki mengejar wanita dan pada akhirnya lelaki tersebut masuk ke dalam ruang wanita, mengikuti keinginan wanita. 

Berbeda dengan Arjuna, wanita yang terus berada di belakang Arjuna untuk mendukung gerakan sosialnya. Tidak dikisahkan bahwa Arjuna mengejar seorang wanita dan memasuki dunia wanita, memenuhi semua kebutuhan dari wanita. Bahkan dalam kisah pertempuran melawan Kurawa, istri Arjuna yang bernama Srikandi membantunya mengalahkan Bisma. 

Kisah Bang Toyib dan Bang Jono tenyata terjadi juga di cerita pewayangan. Artinya, ketidakwarasan lelaki itu bukan hanya terjadi saat ini. ketidakwarasan seakan sudah dianggap lumrah dan menjadi budaya. Sehingga, ketika diberitakan ketidakwarasan lelaki seakan sudah tidak menarik lagi. 

Padahal pada kisah-kisah pewayangan, apabila ditelisik dan dianalisis dengan cermat, di dalamnya terdapat pesan moral. Ditambah tuntutan budi pekerti yang layak menjadi referensi pembentukan moral, akhlak serta prilaku du alam kehidupan modern. Nilai-nilai yang terkandung pada pewayangan ini adalah nilai-nilai yang universal, dapat berlaku, diterima, dan diterapkan oleh masyarakat. Adat dan budaya sebenarnya tak pernah lekang ditelan perubahan zaman dan peradaban. 


Penulis : Nurdiani Latifah

Artikel Lainnya

Comments